Ekonom Faisal Al-Basri Mengusulkan Penundaan Pembangunan Lembaga Ilmu Pengetahuan Nasional Setidaknya Untuk Tiga Tahun Ke Depan.

Laporan wartawan Ismoyo

, JAKARTA – Pemerintahan Joko Widodo Ma’ruf Amin mengusung konsep pembangunan Indonesia sentris, dengan ambisi segera mewujudkan ibu kota nusantara (IKN) yang diharapkan menjadi bentuk transformatif peradaban Indonesia. .

Dengan berkembangnya IKN, Joko Widodo meyakini pembangunan dan perekonomian daerah yang tinggi tidak akan terkonsentrasi hanya di Pulau Jawa.

Namun Kepala Ekonom Faisal Al-Basri mengingatkan pemerintah untuk segera mengkaji ulang rencana pembangunan proyek IKN. Dia merekomendasikan untuk menunda pembangunan IKN setidaknya untuk tiga tahun ke depan.

Menurutnya, anggaran pembangunan nasional harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan yang paling kritis. Apalagi ancaman krisis global menimpa setiap negara di dunia, termasuk Indonesia.

“Bangun ibu kota negara, tapi tunda tiga tahun ke depan. Pak Jokowi sendiri sudah mengakui bahwa tantangan 2023 akan sangat berat dan berulang kali mengatakan bahwa dunia suram. Kami memperingatkan dalam kuliah umum khusus daring (November) 26, 2022).

“Yang kami inginkan adalah menjaga konsistensi sebagai kepala negara,” ujarnya, “Hal pertama yang perlu kita amankan dan selamatkan adalah rakyat Indonesia yang sedang krisis.”

Faisal menambahkan, tantangan ekonomi dunia dan Indonesia sudah kita saksikan.

Pertama, pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan tren yang melambat. Kedua, laju pemulihan ekonomi relatif lambat. Ketiga, perubahan ekonomi tetap stagnan.

“Hal ini terlihat pada ekspor Indonesia yang masih didominasi komoditas primer. Kemudian peran industri manufaktur terus menurun dan menurun sebelum mencapai titik optimal (gejala awal deindustrialisasi),” ujar Faisal.

“Jumlah pekerja tidak tetap lebih banyak daripada pekerja tetap,” tambahnya.

Poin keempat berkaitan dengan tantangan ekonomi Indonesia, terlihat dari jumlah penduduk rentan (sangat miskin, miskin, miskin dan rentan) yang masih berjumlah lebih dari setengah jumlah penduduk.

Baca Juga  Kisah Warga Desa Jasol Yang Tinggal Di Pengungsian: Obat-obatan Yang Cukup, Logistik Yang Murah Hati

“Kelima, pendapatan per kapita turun dan kelas turun kembali dari menengah ke atas menjadi menengah ke bawah,” pungkasnya.

Related Posts